Skip to main content

Perpanjangan SIM

Hari ini saya meluangkan waktu saya untuk melakukan perpanjangan SIM. Awalnya saya mendatangi Samsat karena saya mendapat informasi ini dari Iwanmaru. Akan tetapi ternyata di Samsat tidak melayani perpanjangan SIM. Saya disarankan untuk datang ke Polresta Bogor untuk perpanjangan SIM.

Dari situ saya langsung meluncur ke Polresta Bogor. Saya sangat bingung harus menuju loket yang mana. Saya tanya ke loket 1, katanya harus melakukan pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu. Maka saya langsung melakukan pemeriksaan kesehatan dengan biaya Rp50.000,- dengan rincian sebagai berikut :
1. Asuransi : Rp30.000,-
2. Pemeriksaan kesehatan : Rp20.000,-

Langsung dari situ saya diminta untuk ke kantor BRI untuk melakukan pembayaran perpanjangan SIM sebesar Rp75.000,-. Setelah itu saya menuju loket 1 untuk memasukan berkas hasil pemeriksaan kesehatan serta bukti pembayaran tersebut lalu menunggu. Setelah diperiksa, berkas tersebut dikembalikan kembali melalui loket 2 dan diberikan selembar formulir yang harus diisi. Saya mengisinya lalu menyerahkannya kembali ke loket 3. Setelah itu diberikan nomor antrian untuk foto. Tinggal menunggu panggilan untuk masuk ke ruang foto. Tadi saya mendapat nomor antrian 35 untuk foto. Giliran saya pun tiba dan saya diminta untuk scan sidik jari jempol kiri dan kanan, setelah itu difoto. Selesai.

Langsung setelah difoto adalah saatnya menunggu kartu SIM selesai dibuat. Hanya menunggu kurang dari 1 menit setelah keluar dari ruangan foto, SIM pun selesai dibuat. Setelah itu saya langsung pulang karena sudah merasa lapar. 2 jam saya habiskan waktu saya di Polresta Bogor.

Bagi Anda yang ingin melakukan perpanjangan SIM, lebih baik lakukan sendiri. Karena ternyata lebih murah dan biayanya sudah pasti seperti yang ditetapkan. Seperti hari ini saya hanya mengeluarkan biaya sebesar Rp125.000,- saja. Tidak ada biaya tambahan atau biaya-biaya administrasi lainnya. Memang waktu yang dibutuhkan cukup banyak untuk melakukan perpanjangan, akan tetapi setelah melalui prosesnya, waktu yang terbuang tidak terasa percuma.

Saran saya agar saat menunggu prosesnya, lebih baik membawa gadget untuk bermain game atau apapun biar waktu menunggu tidak jenuh dan mengantuk. Selain bermain game juga bisa berkenalan dengan orang-orang di sekitar yang juga sedang menunggu agar tidak bosan.

Sekian cerita mengenai perpanjangan SIM yang saya lakukan hari ini. Semoga cerita ini bermanfaat.

Di bawah ini adalah foto SIM lama dan baru serta kartu Asuransinya :
SIM sebelumnya

SIM sebelumnya
SIM baru

SIM baru
Kartu Asuransi

Kartu Asuransi
Post a Comment

POSTING TERPOPULER

Chika dan JOYOmaru

Masih di hari yang sama, Selasa, 5 April 2011 siang, saya dan Chika mengambil kamera dan berfoto kembali. Karena cuaca sedang cerah waktu itu, kami mengambil foto di depan rumah saya. Ini dia beberapa foto yang sudah kami ambil :

Apa Arti Rp.10.000,- Sebenarnya?

Apakah arti dari uangRp.10.000,- (sepuluh ribu rupiah)bagi anda? Apakah dengan uang Rp.10.000,- anda bisa makan enak? Apakah anda cukup dengan uang jajan Rp.10.000,-/hari? Bagaimana kalau ada yang memberikan anda Rp.10.000,-/jam? Berapa yang anda dapat dalam 1 hari? (Rp.240.000,-/hari) Mungkin terlalu berhayal, tapi bagaimana kalau ada 5 orang saja dalam 1 hari yang memberi anda uang Rp.10.000,-? Anda sudah dapat Rp.50.000,- dari 5 orang tersebut. Betul bukan?
Tapi apakah itu mungkin?? Bagaimana orang mau memberi anda uang dengan cuma-cuma sedangkan anda tidak berbuat apa-apa. Mustahil, tapi saya punya rahasianya.
Masuk saja ke SINI untuk baca lebih lengkap. Karena kalau saya jelaskan di blog saya, nanti penuh. Haha
Klo yang mau mikir-mikir dulu, klik aja disini.

Kedatangan Orang Dari Forum Peduli Lingkungan, Kesehatan

Pagi ini saya kedatangan dua orang ibu-ibu yang katanya datang dari Forum Peduli Lingkungan, Kesehatan. Saya diberikan brosur serta 10 bungkus LARVASIDA Butiran dengan harga tertera Rp2.500,-. Otomatis total seharusnya Rp25.000,-.

Akan tetapi disodorkan selembar kuitansi seperti pada gambar di atas tertera nilai 2 kali lipatnya (Rp50.000,-). Sayangnya saya tidak tanya kenapa bisa seperti itu. Apakah selisihnya yang menjadi keuntungan mereka atau bagaimana.
Yang menjadi aneh adalah tidak semua rumah disini didatangi. Pintu yang tertutup dibiarkan saja, tidak diketuk atau bagimana. Padahal sebelum saya bayar, saya tanya, "Apakah ini wajib?". Kata mereka "Wajib". Maka saya bayarlah Rp50.000,- kepada mereka.
Lalu setelah mereka pergi, ternyata benar, tetangga-tetangga saya tidak didatangi. Malah dibiarkan begitu saja. Katanya wajib, tapi kok tidak semuanya? Akan saya tanyakan kepada RT nanti apakah RT sudah mengetahuinya atau belum. Jika datang lagi orang itu, akan sa…