Skip to main content

Waspada Pungutan Liar di Kelurahan

Hari ini (Rabu, 3 Agustus 2016) saya mengurus sendiri dokumen untuk kelengkapan Catatan Sipil di Kelurahan Babakan Pasar, Kota Bogor. Semalam (Selasa, 2 Agustus 2016) saya membuat surat pengantar dari RT RW RW untuk selanjutnya dibawa ke Kelurahan sebagai syarat pembuatan surat N1, N2 dan N4,

klik gambar untuk memperbesar gambar
Selanjutnya di Kelurahan saya diminta untuk menyerahkan persyaratan sebagai berikut :
1. Surat Pengantar dari RT & RW
2. Fotocopy KTP
3. Fotocopy Kartu Keluarga
4. 1 lembar Materai Rp6.000,-

Sambil menunggu, saya diminta untuk mengisi absen di Kelurahan tersebut. Hampir 1 jam menunggu, akhirnya surat N1, N2 dan N4 keluar. Ibu-ibu yang melayani saya ada 2 orang dan kedua orang itu terlalu fokus nonton TV dan yang satunya sambil mengetik sambil ngobrol serta nonton TV.

Setelah ibu-ibu tadi menyerahkan surat N1, N2 dan N4 kepada saya. Ia bilang "tinggal administrasinya aja". sambil berbisik. Lalu saya tanya, "jadi berapa?". Lalu si ibu-ibu tersebut menjawab dengan suara pelan (mungkin takut ketahuan pa Lurah) : "jadi lima puluh ribu".

Wah dalam hati saya ada yang tidak beres nih melihat gelagat si ibu-ibu ini. Akan tetapi karena saya orangnya tidak terlalu ribet, ya sudah saya keluarkan uang Rp50.000,- dan saya serahkan kepada ibu-ibu itu (sepertinya uangnya akan dibagi dua sama ibu-ibu yang satunya lagi).

Nah itu dia pengalaman saya tadi (Rabu, 3 Agustus 2016). Namun berdasarkan informasi yang saya baca setelah kejadian ini, saya baru tau, ternyata untuk mengurus surat-surat ini sebetulnya 100% GRATIS!

Jadi saya minta kepada Anda sekalian yang belum pernah atau akan mengurus surat-surat di Kelurahan, ada baiknya cek dulu mengenai biaya-biaya kepengurusan surat-surat di Kelurahan tempat Anda. Anda bisa tanya langsung ke pa Lurah agar tidak ada oknum yang memanfaatkan kesempatan ini untuk mencari penghasilan tambahan dengan memanfaatkan pungutan liar kepada warga yang sedang mengurus surat-surat.

Berikut ini adalah bukti (tanda terima) yang saya minta dari ibu-ibu tadi terkait bayaran yang saya serahkan kepada ibu-ibu itu untuk kepengurusan surat N1, N2 dan N4 :

klik gambar untuk memperbesar gambar
Si ibu-ibu tadi enggan mengeluarkan kwitansi resmi dari Kelurahan. Maka dari itu ia hanya memberikan selembar kertas yang ditulis seperti pada gambar diatas saja.

Catatan : Saya bukan pelit, tapi saya lebih ikhlas memberi jika ia bilang "Ada biaya administrasi, hanya sifatnya sukarela". Mungkin jika ia bilang seperti itu, akan lebih saya hargai.
Post a Comment

POSTING TERPOPULER

Chika dan JOYOmaru

Masih di hari yang sama, Selasa, 5 April 2011 siang, saya dan Chika mengambil kamera dan berfoto kembali. Karena cuaca sedang cerah waktu itu, kami mengambil foto di depan rumah saya. Ini dia beberapa foto yang sudah kami ambil :

Apa Arti Rp.10.000,- Sebenarnya?

Apakah arti dari uangRp.10.000,- (sepuluh ribu rupiah)bagi anda? Apakah dengan uang Rp.10.000,- anda bisa makan enak? Apakah anda cukup dengan uang jajan Rp.10.000,-/hari? Bagaimana kalau ada yang memberikan anda Rp.10.000,-/jam? Berapa yang anda dapat dalam 1 hari? (Rp.240.000,-/hari) Mungkin terlalu berhayal, tapi bagaimana kalau ada 5 orang saja dalam 1 hari yang memberi anda uang Rp.10.000,-? Anda sudah dapat Rp.50.000,- dari 5 orang tersebut. Betul bukan?
Tapi apakah itu mungkin?? Bagaimana orang mau memberi anda uang dengan cuma-cuma sedangkan anda tidak berbuat apa-apa. Mustahil, tapi saya punya rahasianya.
Masuk saja ke SINI untuk baca lebih lengkap. Karena kalau saya jelaskan di blog saya, nanti penuh. Haha
Klo yang mau mikir-mikir dulu, klik aja disini.

Kedatangan Orang Dari Forum Peduli Lingkungan, Kesehatan

Pagi ini saya kedatangan dua orang ibu-ibu yang katanya datang dari Forum Peduli Lingkungan, Kesehatan. Saya diberikan brosur serta 10 bungkus LARVASIDA Butiran dengan harga tertera Rp2.500,-. Otomatis total seharusnya Rp25.000,-.

Akan tetapi disodorkan selembar kuitansi seperti pada gambar di atas tertera nilai 2 kali lipatnya (Rp50.000,-). Sayangnya saya tidak tanya kenapa bisa seperti itu. Apakah selisihnya yang menjadi keuntungan mereka atau bagaimana.
Yang menjadi aneh adalah tidak semua rumah disini didatangi. Pintu yang tertutup dibiarkan saja, tidak diketuk atau bagimana. Padahal sebelum saya bayar, saya tanya, "Apakah ini wajib?". Kata mereka "Wajib". Maka saya bayarlah Rp50.000,- kepada mereka.
Lalu setelah mereka pergi, ternyata benar, tetangga-tetangga saya tidak didatangi. Malah dibiarkan begitu saja. Katanya wajib, tapi kok tidak semuanya? Akan saya tanyakan kepada RT nanti apakah RT sudah mengetahuinya atau belum. Jika datang lagi orang itu, akan sa…